11/28/15

rindu senja

#1
menjelang malam
hati merunduk malu
senyum di kulum

#2
langit temaram
rintik gerimis reda
pulanglah senja

#3
diambang petang
mendung menggelayut manja
rindu menggantung

#4
tangga berjalan
meniti  sunyi malam
jalan sendiri

#5
ombak dan pantai
senja turun perlahan
kita bertemu

11/9/15

AKU

kalau sampai waktuku
ku mau tak seorang kan merayu
tidak juga kau

tak perlu sedu sedan itu

aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang

biar peluru menembus kulitku
aku tetap meradang menerjang

luka dan bisa kubawa berlari
berlari
hingga hilang pedih perih

dan aku akan lebih tidak peduli

aku mau hidup seribu tahun lagi

(chairil anwar. maret,1943)

10/10/15

Doa

Sudah banyak dosa yang aku lakukan

Juga sudah banyak tobat yang aku lakukan

akan tetapi diri ini enggan kebaikan


terlalu munafik bila aku berjanji

karena seringkali aku mengingkari


ya Allah...

diri ini gak pantas akan surgamu

akan tetapi

diri ini juga gak kuat akan nerakamu


ya Allah...

jika hidupini hanya menambah dosa

maka musnahkanlah diri ini

akan tetapi...

jika hidup ini mengurangi dosa

tuntunlah diri ini akan hidayah-Mu


ya Allah...

izinkanlah diri ini merasakan cinta-Mu

dan bimbinglah diri ini ke jalan-Mu

jalan yang Engkau ridoi


http://sunmadingkeren.blogspot.co.id/2015/05/puisi-doa.htm

10/9/15

ALLAH AMPUNILAH KAMI

ALLAH AMPUNILAH KAMI

Allah, hendak enkau hancurkan dengan cara apa kami.

Engkau sebarkan virus-virus penyebar ketidak pastian.

Yang dari hari kahari menggrogoti keyakinan.

Kebenaran menjadi tidak begitu benar

Bahkan menjadi begitu benar.

Kemungkaran menjadi tidak begitu mungkar

Bahkan terlalu mungkar.

Ikrar dan ingkar kehilangan pagar.

Damai dan bertikai kehilangan bingkai.

Serakah dan barokah kehilangan pemisah.

Maksiat dan taat kehilangan sekat.

Sebulan Sematahari

sebulan sematahari
Hitam pekat temaninya
Biru putih jadi sobatnya
Bintang dan awan berpadu terpisah
Sebulan, Sematahari.
Kau lihat cahaya, aku aku temui terangnya
Satu rembulan, namun bukan kawanmu
Satu surya, namun tak kukenali
Sebayangan dari sinar yang tak sama
Sehari pada detik yang berlainan
Kau berdiri dan aku tergeletak,
Aku berlari dan kau hanya tidur
Sebulan, Sematahari
Itulah mereka, bayangan kita

9/17/15

siang di malang

angin berhembus riang

 udara sejuk

 memaksa dedaunan melambai

mengusir sinar mentari yang terik

puisi bermimpi

dalam tidurnya

merangkai angan

6/10/15

MELAWAN TAKDIR


MELAWAN TAKDIR

 

Rembulan ditelan awan


Menghilang terbelenggu kepenatan


Dalam keputu asaan


Kehilangan harapan


Rembulan syahdu dalam doa


Menghirup aroma ketidak pastian


Dan bara kemenyan


Yang tertatih melawan takdir

maaf ibu


MAAF IBU


 


Ku tak mengerti bulan


Kenapa kau terlihat suram


Di mata hatiku


Seakan kau hakimi aku


Atas salahku pada ibu

cinta



CINTA

Kenangan adakah indah

Jikalau tak ada cinta didalamnya

Cinta terhadap kekasih

Yang menjawab cintaku



Aku gelisah karena cinta

Berusaha melupakan cinta

Namun nafasku semakin sesak

Terikat rindu



Aku tenggelam dalam cinta

Cinta yang mistis

Membuat hati berdegup kencang

Namun sulit untuk ditafsirkan



Merindu tapi malu

Bahagia sekaligus sedih

Cinta seribu rasa

Membuat hidupku berwarna

5/27/15

senyuman daun muda

senyuman daun muda


matahari menyiramkan sinar
pada senyuman daun muda
yang merangkul pohon tua

embun menyegarkannya
daun muda tersenyum lagi
menghirup sisa wangi angin malam

lagi-lagi daun muda tersenyum
meski dia tak lagi muda
tak mampu lagi melambai pada pagi

walau angin tak lagi bersahabat
embun membuatnya lumpuh
pohon tua menangis sendu

sinar mentari membakar lengan-lengan daun
membuatnya jatuh rebah pada tanah
yang suram, kotor lagi asing

namun tanah merangkulnya
karena lagi-lagi daun tersenyum
pada sahabat tanah

lagi-lagi tersenyum 
tersenyum lagi
lagi